Halaman Muka Kompas edisi Kamis, 11 Juni 2020: Waspadai Gelombang Kedua

Waspadai gelombang kedua. Demikian headline news harian Kompas pagi ini yang menyoroti ihwal terus melonjaknya penambahan kasus harian Covid-19. Judul berita tersebut dipertegas dengan foto bidikan fotografer Kompas, Heru Sri Kumoro. Sesuai caption-nya, foto tersebut mengetengahkan suasana di dalam kereta rel listrik (KRL) Commuterline tujuan Stasiun Rangkasbitung, Banten, saat melintas di sekitar Stasiun Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Rabu (10/6) yang kembali dipenuhi warga seiring pengurangan pembatasan sosial. Di sini Kompas menyoroti penambahan batas maksimal kapasitas penumpang di sarana transportasi, khususnya angkutan umum. Hal ini karena kebijakan tersebut diterapkan saat jumlah kasus positif Covid-19 masih terus meningkat. Seperti diketahui bahwa pemerintah, melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 41 Tahun 2020 tanggal 8 Juni 2020, mengubah batas jumlah penumpang, seperti diatur dalam PM No. 18 Tahun 2020.

Berita utamanya sendiri berisi pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengingatkan agar semua pihak mewaspadai gelombang kedua pandemi Covid-19 yang ditandai lonjakan kasus penyakit tersebut. Penyiapan protokol normal baru oleh pemerintah bukan berarti kerja melawan Covid-19 berakhir. "Tugas besar kita belum berakhir. Ancaman Covid-19 masih ada, kondisi dinamis. Jangan sampai ada gelombang kedua. Jangan sampai ada lonjakan kasus," tutur Presiden, seperti dikutip Kompas, saat memberikan sambutan yang disiarkan secara virtual ketika meninjau kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Jakarta, Rabu (10/6).

Kompas juga mengetengahkan analisis politik Azyumardi Azra berjudul Covid-19: Resesi Demokrasi. Profesor Sejarah UIN Syarif Hidayatullah ini antara lain menulis bahwa Covid-19 yang mewabah secara global menimbulkan disrupsi dan kekacauan dalam hampir semua aspek kehidupan, seperti kesehatan, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan agama. Seolah gagap menghadapi pandemi yang menyebar cepat, beberapa pemerintah negara demokrasi, termasuk Indonesia, mengambil keputusan dan tindakan yang tidak selalu sejalan dengan prinsip demokrasi. Hal ini berdampak pada percepatan kemunduran demokrasi.

Masih di halaman muka, Kompas menulis peringatan Hari Media Sosial Nasional yang jatuh pada 10 Juni 2020, sebagai ajang meningkatkan literasi digital untuk memerangi hoaks. Bagi para pegiat media sosial (medsos), pakar komunikasi, dan aktivis antihoaks, momen ini dimanfaatkan untuk menggalang gerakan literasi guna mengembangkan medsos yang sehat. Menurut data Globalwebindex yang dipublikasikan pada Januari 2020, ada 160 juta pengguna aktif medsos di Indonesia. Mereka merupakan bagian dari 175,4 juta pengguna internet dari 272,1 juta penduduk di Tanah Air. Adapun medsos yang paling banyak digunakan ialah Youtube (140,8 juta pengguna), disusul Whatsapp (134,4 juta), Facebook (131,2 juta), Instagram (126,4 juta), Twitter (89,6 juta), Line (80 juta), Facebook Messenger (80 juta), Linkedin (56 juta), Pinterest (54,4 juta), dan Wechat (46,4 juta orang).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halaman Muka Republika edisi Kamis, 11 Juni 2020: Lampu Hijau untuk Pondok Pesantren